Sabtu, 14 Juli 2018

BONSAI KHAS INDONESIA Budaya berbonsai bukanlah budaha asli Indonesia. Ia merupakan budaya Cina yang 'diekspor' ke Jepang, kemudian ke seluruh dunia. Tidak ketinggalan juga ke Indonesia. Sebagai negeri tropis, dengan sinar matahari yang 'penuh' sepanjang tahun, pertumbuhan tanaman bisa mencapai maksimal dibanding negeri dengan empat musim yang mengalmi musim 'tidur' bagi pertumbuhan tanaman. Jadi, membuat / membentu bonsai di Indonesia relatif lebih cepat dibanding negeri empat musim, apalagi kutub. Tidak aneh jika percepatan penyebaran / pertumbuhan bonsai di Indonesia melamapau negeri asal budaya itu. Indonesia hanya kalah start. Namun, nilai maksimal tidak hanya pada pertumbuhan, tapi juga nilai seninya. Nilai seni tidak lepas dari habitatnya, yang kemudian memunculkan kekhususan yang kental dengan ciri khas. Bagaimanakan bonsai khas Indonesia?

Rabu, 27 Januari 2010

Our Spirits


Apakah semua orang harus kaya ?

Apakah semua orang harus sehat terus ?

Apakah semua orang hidup bahagia ?

Inilah pertanyaan yang seharusnya di pahami semua pihak . Beraneka ragam permasalahan di dunia ini belum terselesaikan . Mengharapkan pemerintah menuntaskan segalanya , tentu tidak mungkin . Karena di terima atau tidak , inilah PR bersama yang harus kita sadari sebagai mahluk sosial . Namun sayangnya tidak semua orang menyadarinya arti penting “ BERBAGI “.

Maka dengan kesadaran itulah , kami membentuk sekumpulan yang bernama “ THE SPIRIT OF WOMAN “, karena mempunyai kesamaan visi dan misi , untuk terus mencoba “ BERBAGI” , dengan mengedepankan masalah kemanusiaan yang terjadi di dunia ini .

Ketika perempuan masuk dunia kerja, sering mendapat pekerjaan yang paling susah di pabrik atau kantor, dengan upah yang paling rendah, sekaligus terus dibebani dengan kebanyakan tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mengasuh anak-anak.

Perempuan menderita pelecehan seksual dan pemerkosaan, sekaligus dalam media massa dari pornografi sampai ke iklan biasa mereka digambarkan sebagai makhluk yang cantik atau sensual saja, sepertinya tidak mempunyai ciri yang lain. Namun ironisnya, jika perempuan berhubungan seks terlalu bebas, pasti dicap “tanpa susila”. Kalau terjadi kecelakaan, susah mencari pengguguran yang masih dilarang di beberapa negeri, termasuk Indonesia.

Semua perempuan mengalami penindasan ini, dari yang berpangkat tinggi seperti Putri Diana sampai yang paling rendah seperti pengemis di pinggir jalan.

Namun penindasan tersebut dampaknya tidaklah sama kepada setiap perempuan. Meskipun di kalangan bisnis para eksekutif wanita masih merupakan minoritas, buat perempuan kaya toh ada cara untuk mengurangi beban ketertindasan yang tidak tersedia kepada perempuan miskin.

Pekerjaan rumah tangga atau pengasuhan anak-anak jelas tidak merupakan beban berat buat seorang wanita berada yang mempekerjakan beberapa pembantu. Pengguguran tidak menjadi masalah bagi yang mampu membayar ongkos perjalanan keluar negeri. Wanita-wanita miskin yang hidup melarat karena keluarga yang terlalu besar, merekalah yang terluka atau mati di tangan tukang abortus gelap.

Yang mempunyai duit lebih mudah menghindari pelecehan seksual atau pemerkosaan dengan naik taksi pada malam hari, lebih mudah luput dari perkawinin tanpa cinta atau dari keganasan rumah tangga, Perempuan kaya malah mendapat untung dari penindasan kaum miskin. Upah rendah yang dibayar kepada TKW Indonesia yang menjadi pembantu rumah-tangga di Hong Kong, misalnya, membuat si majikan lebih kaya lagi. Makanya penindasan perempuan kelihatannya jauh berbeda jika dilihat dari rumah mewah dibandingkan dengan gubuk melarat.

Sudah dari dulu, adanya pertentangan kelas menjadi masalah untuk gerakan emansipasi perempuan. Di Inggeris misalnya, gerakan feminis terpecah setelah Perang Dunia I. Sayap kiri yang dipimpin oleh Sylvia Pankhurst menjadi sosialis dan memperjuangkan hak-hak buruh perempuan di bilangan miskin kota London. Sedangkan ibunya Emmeline Pankhurst dan kakaknya Christobel Pankhurst memusatkan perhatian mereka kepada kepentingan golongan tengah dan menjadi orang sayap kanan.

Demikian pula, gerakan Women’s Liberation tahun 1970-an di barat telah terpecah-pecah. Sebagian menjadi sosialis dan/atau tetap radikal, sedangkan sebagian lainnya mancapai karir yang gemilang dan tidak menghiraukan lagi nasib perempuan rakyat kecil.

Masalah kaum homoseksual dan lesbian (gay). Kaum gay seringkali dikambing-hitamkan sebagai biang keladi dari masalah-masalah sosial, padahal justru mereka yang menjadi korban.

Penindasan terhadap kaum gay juga berkaitan dengan keperluan sistem kapitalis untuk memproduksi tenaga kerja dan struktur-struktur ideologis lewat keluarga “normal”. Orang yang tidak menyesuaikan diri untuk memainkan peranan sebagai laki-laki atau perempuan “normal” dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban sosial. Prasangka ini tercerminkan pula dalam struktur-struktur sosial-budaya, dimana kaum gay dianggap tidak senonoh, dan bisa di-PHK, dipukul, bahkan dibunuh lantaran gaya hidup mereka yang lain.

Sebetulnya kita semua dirugikan oleh situasi ini, karena terpaksa kita harus hidup menurut pola tindak-tanduk yang kelewat sempit (konservatif). Makanya, kita berusaha turut serta “ BERBAGI ” dalam setiap masalah kemanusiaan dengan membuat bangsa ini “ KEMBALI TERSENYUM ” di era global , yang semakin melunturkan norma dan aturan yang berlaku. Dan di mulai dari tahun 2010 ini lah , THE SPIRIT OF WOMAN , siap “ BERBAGI “ !! dan melebarkan sayap ke seluruh wilayah Indonesia.